Powered By

Free XML Skins for Blogger

Powered by Blogger

Selasa, 21 Juli 2009

Cinta Tak sampai

like a hell!
panas siang itu amat menyengat. teriknya membara, memunculkan efek fatamorgana di atas aspal depan sekolahku.
jam sekolah telah usai, dengan berjalan kaki, gue dan alfi, temen sebangku gue, melangkah meninggalkan gerbang sekolah.
peluh mulai bermunculan dari pori-pori kulitku yang eksotis (baca : mirip pantat penggorengan), hal yang paling gue benci sembari menunggu sopir pribadi gue menjemput.
Stop!!! what? jemput? sopir pribadi? Buchorr punya sopir pribadi?
yeah!bukanya sombong nih ye, gue dulu emang punya sopir pribadi, tiap hari antar en jemput gue, malah sopir en mobilnya tiap hari ganti!
sayangnya yang naik mobil ini bukan gue sendiri, tapi banyak orang...
hehehe... namanya angkot.

siang itu jalanan ramai sekali dengan anak-anak yang pulang sekolah, karena sekolah gue berada dikawasan lingkungan komplek pendidikan
sekolah gue MAN Ngraho berdiri satu jalur dengan SMAN Ngraho, SMPN, MTSN, sehingga ketika jam pulang sekolah maka jalanan akan tumpah ruah dengan manusia berseragam putih Biru
hingga putih abu-abu, kadang kalo beruntung biasanya kita bakal ngeliat ada yang gak pake baju, alias orang gila lepas yg suka jalan-jalan di depan sekolah

tenggorokan gue kering banget, uang jajan udah habis sejak istirahat pertama, ngeliat fatamorgana yang memunculkan efek genangan air
di atas aspal ngebuat gue pengin lompat dan berenang di atasnya, yang gue urungkan mengingat ini bukan padang pasir, dan melakukan hal itu selain bisa di cap sakit jiwa, gue juga takut jadi sambal terasi gara-gara kelindes angkot.

angkot yang gue gak tau kenapa di palangka disebut taksi, buat golongan ekonomi menengah ke bawah kayak gue en alfi, merupakan sarana
transportasi paling penting untuk mendukung kelangsungan sekolah. selain murah meriah,apalagi kalo turunya rame-rame trus gak bayar
hehehehe...(bukan! itu bukan pengalaman gue! sumpah! oke cuman satu kali aja).

tiba-tiba siang yang panasnya mampu membuat kita memasak telur di atas batu, berubah menjadi jaman es ke dua.
Seorang gadis berseragam putih biru, berjalan perlahan mendekat ke arah gue gue. dunia menjadi slow motion, rasanya semua ungkapan pujangga angkatan 45 yang tadi pagi gue pelajari sangat mewakili gadis ini.

alisnya laksana semut beriring,
dagunya bagai lebah bergantung,
rambutnya mayang terurai,
Matanya bagai bintang timur,(yang ini terdengar kayak nama toko bangunan)
bibirnya delima merekah,
wajahnya bak pualam dari surga.
Lengannya bagai lilin dituang
Pipinya bagai pauh dilayang

sangat berbanding terbalik dengan keadaan gue yang hanya bisa diungkapkan dengan kalimat
"mummy suku asmat"
dagu gue? dagu kera bergantung!

waktu membeku ketika dengan anggunya ia berjalan melewati gue, rambutnya berkibar menebarkan wangi, oh bagaimana bisa rambutnya
masih harum di jam segini? apakah dia bawa-bawa shampo buat keramas di sekolah? dan waktu kembali berjalan normal ketika ia telah menaiki angkot, yang kemudian melaju cepat meninggalkan asap kelabu di wajah gue.
gue jatuh cinta pada pandangan pertama.
"ANJRIT!!! CANTIK BANGET!!!" sumpah gue.

keesokan harinya menunggu angkot menjadi saat-saat paling menyenangkan di dunia, kondisi cuaca yang persis suhu panci berasa kayak menunggu transjakarta di terminal. tapi kalo di pikir-pikir apa mungkin seorang gadis secantik itu mau berpanas-panas
dan berjejal di dalam angkot yang dari tampilanya "ngajakin tabrakan bareng" banget?, apalagi kalo udah ada yang tanpa dosa melepaskan gas air mata dikombinasikan dengan jendela yang gak bisa dibuka, komplitlah sudah kamar pembantaian tentara nazi.
apa mungkin kemaren supir pribadinya lagi sakit batu ginjal (penting gak sih ini dijelasin?), sehingga dia terpaksa naik angkot?
ternyata pertanyaan gue tadi terjawab, sang pujaan hati yang namanya gue gak tau, muncul, dunia kembali slow motion, senyumnya merekah, melangkah menyusuri trotoar sambil bercanda dengan sahabatnya.
gue hanya bisa terpana dan tak mampu berkata-kata, ingin sekali gue berkenalan denganya, tapi kalimat-kalimat yang gue rangkai sepanjang malam, turut menghilang dengan menghilanganya ia dari pandangan gue.

dan keadaan kayak gini berlangsung hingga hari-hari berikutnya,
gue berdiri ditrotoar dan menunggu sang bidadari lewat, menikmati indahnya dari kejauhan. suatu hari gue beruntung bisa satu angkot dengan gadis itu, kita duduk berseberangan, ia duduk di kursi belakang dekat jendela, sementara gue duduk di belakang supir hidung gue deket dengan ketek supir yang baunya adalah akumulasi puluhan tikus yang terjerat di bulu-bulu keteknya. dan di sinilah gue berhasil mengetahui namanya, Komariah, dari sampul buku yang ia pegang, disana namanya tertulis dengan indah. seharusnya kesempatan besar ini gue gunakan buat kenalan, tapi tubuh gue paralys, gak mampu bergerak, kalimat "hai" itu gue simpan dalam-dalam.

udah hampir 6 minggu gue dalam kondisi seperti ini, hingga suatu hari gue memutuskan memberanikan diri untuk berkenalan
dengannya, bisa gak bisa hari ini gue harus bisa ngobrol en kenalan dengannya.
ia sudah muncul! gue pun bersiap, merapikan diri, sengaja hari ini gue gak keluar istirahat biar aroma kuda mati itu gak kecium dari badan gue
jantung gue berdetak kencang, nafas gue gak teratur, duit gue habis dan nilai matematika gue 6 lagi. sesaat sebelum sang gadis menapakan kakinya ke dalam angkot itu,
gue menyapanya ramah
"eh... hai"
"ya?" ia membalikan badan dengan tampang heran
"kenalin, gue Buchorr" sambar gue sambil menyodorkan tangan.
"eh..ya..?" ia membalas jabat tangan gue, dengan tampak sedikit kaget
"dan nama kamu?"
seperti tersentak dari lamunan ia menjawab pertanyaan gue "oh iya...sorry nama aku komariah"
"mungkin ini agak aneh ya, tapi jujur aku udah lama banget perhatiin kamu, kamu anak SMP-1 kan?"
"iya? kok kakak tau sih?"
"tuh ngeliat lokasi di baju kamu"
"oh...hehehe naik angkot juga?"
"yep! kita satu jalur, yuk naik"
"yuk"
kami kemudian masuk kedalam angkot dan duduk di ujung, dekat jendela belakang
setelah berhasil menempelkan pantat ke bangku angkot yang bentuknya udah kayak bekas digigit anjing, didalam angkot yang penuh sesak itu, gue kembali membuka obrolan
"kelas berapa?"
"aku? aku kelas 2, kalo kakak?"
"aku baru kelas 1 hehehe, oh iya rumahnya dimana?"
"aku dijalan Buntu kak"
"oh kilometer 5? kalo aku kilometer 1, di daerah pasar Tinggang" (bego siapa yang nanya!)
"mmmm...." dia memasang tampang bingung
"eh namanya siapa tadi? komariah ya?"
"yep bener"
"jadi gue manggilnya apa nih? ria atau Komar?" canda gue
"ah jahat!banget!" dia noyor kepala gue! busyet! gak sopan banget noyor kepala orang! tapi gak papalah jangankan diotoyor di cium juga gue mau
dia noyor kepala gue lagi ...bah ini mah beneran udah kurang ajar! toyorannya semakin kencang dan tiba-tiba suara komariah berubah kayak suara bang napi keselek biji kedondong,

"woy! ngayal jorok lagi lu ye?"
suara alfi membuat gue tersadar dari lamunan...
gue masih berdiri di trotoar, terdiam memperhatikan sang gadis pujaan gue melangkah dan memasuki angkot. ah, mungkin gue gak bakalan bisa berkenalan sama dia, apalagi sampe bisa ngedapetin dia, pertama gue sadar, gak ada nilai plus dalam diri gue yang bisa dibanggain biar dia kecantol, bayangin gue jalan-jalan en ketemu sama temen-temenya...

"Eh ria... ini supir kamu ya?"
dia pasti malu banget
lagipula gak akan ada yang bisa gue kasih ke dia seandainya dia khilaf mau jadi pacar gue, gue orang tak berada.

"yang kita malam mingguan yuk
"yuk... tapi jemput ya?"
"tenang aja aku udah di dalem angkot nih, udah mau deket rumah kamu, kamu dandan yang cantik ya!?"
(sungguh tidak romantis sekali)

kedua gue sadar gue emang pengecut gue masih takut menerima paket yang diterima saat menyatakan perasaan kepada seseorang, paket yang gue gak bakal tau isnya apa, apakah diterima atau ditolak. Mungkin berdiri siang-siang di trotoar dan memandangi dirinya dari kejauhan udah cukup menyenangkan ketimbang gue nangis-nangis selonjoran dijalan gara-gara gak diterima.

beberapa hari kemudian gue dapet hadiah ultah dari bokap gue,sebuah motor YAMAHA SIGMA bekas. Jadi gue sekarang gak perlu lagi nunggu2 angkot kepanasan hingga berubah menjadi ikan asin. karena jalur menuju rumah gue jauh, kalo naik angkot biasanya melewati jalur yang memutar, setelah punya motor gue lebih sering lewat jalur pintas melewati gang-gang kecil, apalagi setelah jam sekolah yang semakin siang karena program pelajaran tambahan sehingga kesempatan buat bertemu dengan sang gadispun menjadi berkurang dan sejak saat itu pula gue gak pernah bertemu lagi dengan Komariah, cinta tak sampai gue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar